Distributor Acrylic – Moestaram, Harry Ibrahim, dan Defrico Audy sukses menawarkan koleksi busana siap gunakan yang dapat diterima masyarakat di gelanggang Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2010. Sederhana, rapi, dan padu padan warna yang selaras menjadi kata kunci dari rancangan ready-to-wear deluxe mereka.

Ketiga desainer yang sekarang bergabung dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) itu menggelar mini show di Ballroom Grand Ballroom Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading, Pusat Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (19/5/2010) malam. Mengusung tema besar koleksi ”Renewable World”, masing-masing perancang menawarkan koleksi personal dengan teknik pelaksanaan yang canggih.

Malik Moestaram, contohnya, mengusung tema koleksi ”Galactum”. Melewati karyanya yang apik, Malik mengambil ide dari faktor-faktor yang ada dalam misteri dari ruang angkasa, ruang hampa udara, dan batu-batuan.

”Aku coba menerjemahkan tema hal yang demikian menjadi busana yang dapat diterima masyarakat. Meskipun ada kesan futuristik, tetapi busana aku sungguh-sungguh weareble,” kata Malik berbincang dengan okezone sebelum pergelaran busana di Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading, Pusat Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Supaya busananya menarik, Malik malahan tidak cuma mengekspos warna dan material bahan yang eksklusif. Desainer asal Bandung, Jawa Barat ini berupaya mengeksplor permainan teknik prada, sentuhan futuristik, dan dekoratif.

”Kali ini aku juga mengaplikasikan faktor plastik, besi, dan akrilik. Adapun warna bahan yang aku pakai seperti biru, hijau, dan kuning,” tambah Malik yang memamerkan 32 koleksi, terdiri dari 30 pakaian wanita dan dua pakaian pria.

”Ini lebih merujuk terhadap koleksi ready-to-wear deluxe-evening couture dengan teknik layer yang mewujudkan gaun-gaun berstruktur dalam garis dan lipit, serta lapisan-lapisan kain yang menyusun karakter gaun simple silhouette tetapi kaya akan tekstur,” ulas Harry yang unggul dalam teknik potongan yang rapi.

Pada koleksi kali ini, Harry mengaku tidak banyak mengekspos dialek batu dan payet. Alasannya, Harry berharap memperlihatkan lapisan-lapisan kain yang menyusun gaun simple silhouette.

”Batu dan payet cuma sebagai aksesori yang mempercantik keseluruhan tampilan tanpa membikin gaun hal yang demikian terkesan berlebihan,” jelasnya.

 

 

Artikel Lain : Jual Acrylic Lembaran